Selasa, 31 Januari 2017

Cerita di Akhir Bulan

Hari ini hari begitu cerah
Memberikan  ketenangan pada diriku yang memandangmu dari kejauhan
Kita memang dekat,
Hanya sejengkal saja memisahkan
Namun aku merasa canggung untuk menayakan “apa kabar?”
Setidaknya aku dapat melihatnya dari caramu berbincang,
Yang mencoba menghiraukan diriku yang berada di depan.
Sesak di dada yang telah kurasakan.,
Aku bisa apa?
Diriku menanyakan, namun hati coba ku kuatkan.
Kamu yang dulu sedekat nadi,
Ternyata sekarang telah sejauh matahari,
Seakan orang lain yang tak mengenal satu sama lain.

Aku telah bersyukur dapat melihatmu hari ini
Menyaksikan bagaimana dirimu berinteraksi di depanku ini
Pilu benar pilu saat ku coba menyapa
Namun setelah itu apa yang aku dapatkan?
Kau menjauh, bahkan tak menggubris diriku..

Terlalukah semua membuatmu kecewa
Sampai kapan semua dapat datang seperti semula,

Salahkah bila ku menanyakan “MENGAPA?”
Sesalahkah dengan “KUMERINDUKAN?”
Sungguh tiada penyesalan setelah ku berpapasan
Justru syukur yang benar-benar ku coba panjatkan
Karena kapan lagi ku dapat berjumpa setelah perpisahan..

Boyolali, 31 Januari 2017

Sekian Dariku



Tiapku diriku ingin  menulis tentangmu,
Hanya satu kalimat yang selalu terbesit dalam pikiranku
‘APA KABAR?”
Kalimat yang sangat sederhana
Namun apakah mudah untuk mendapatkan jawabannya?
Terselimuti oleh ragu, canggung, semua menjadi satu

Beranjak dan pergi itu yang seharusnya terjadi
Siapa yang tak inginkan semua itu
Telah kuyakinkan diriku jika semua tak seperti dulu
Masih saja diri ini merindukan seperti itu
Ku tau semua ini hanya membuang waktu
Semua ini pula merugikan diriku

Ketika malam datang,
Kita berada dalam satu kota yang sama
Merasakan dinginnya malam yang serupa
Namun saat ini berbeda dengan yang telah ada
Mungkinkah kita dapat mengulang
Bercanda bersama, bercengkrama bersama,

Teringat ku menangis di hadadapanmu,
Mengharapkan dirimu tuk selalu untukku
Namun lucu saja jika semua itu,

Ku hanya ingin terbebas dari semua ini,
Membiarkan yang terjadi berlalu,
Seperti air sungai yang mengalir mengikuti arus

Tak inginkah kau berbicara padauk?
Aku merindukanmu,
Itu yang selalu terngiang di benakku
Apakah kau merasakannya juga?
Aku tau kau telah pergi,
Benar-benar pegi dan tak mengharapkan ku kembali
Dan salahkah bila aku mengakui
“Diriku Menyayangimu penuh rindu”

Tak inginkah kau mendengarkan alasanku sebentar saja?
Tak inginkah kau berbicara denganku sepatah dua patah saja?
Tertawalah karena aku menyesal,
Namun aku tak malu jika diriku mengyayangimu,
Apa alasan yang harus ku berikan?
Ku “NYAMAN”
Nyamanmu membuatku tak dapat melupakanmu

Datanglah, walau hanya sebentar
Aku merindukanmu, sungguh merindukanmu.
Pertemuan terkahir kita :’(
Kita pernah merencanakan berbagai angan
Harus begini, harus begitu, namun semua sia-sia

Kau muak bukan bila ku mengingatkan?
Saat itu aku ragu,
Namun keraguanku membuat kita berlalu

Haruskah aku menyebut namamu dalam rinduku?
Dengarkanlah rinduku ini,
Pahamilah kesendirianku ini,
Mungkinkah kita dapat seperti dulu?
Salahkah bila aku merindukan dulu?

Boyolali, 29 Januari 2017